Minggu kedua bulan september 2008 saya diajak jalan oleh tim safari ramadhan ke daerah ALA (Aceh Leuser Antara) tepatnya Kabupaten Gayo Lues dan Aceh Tenggara. Kami berangkat dari Banda Aceh setelah sholat Taraweh mengingat perjalanan malam hari lebih enak dibandingkan siang hari apalagi dalam suasana menjalankan ibadah ramadhan. Dalam target kami shahur di Bireun selanjutnya melewati pengunungan Bener Meriah dan Aceh Tengah siang harinya sudah bisa bertemu dengan masyarakat Gayo Lues iftar bersama.

Dari 24 jam berada di daerah yang dikenal dengan seribu bukit saya mendapatkan cerita yang sedikit teriris hati sebagai masyarakat Aceh yang terikat persaudaraan yang kuat. Diamana para sopir angkot diminta bariskan mobilnya untuk ditempel secara paksa stiker salah satu partai lokal. Ini suatu pemaksaan politik yang sangat tidak sehat apalagi setelah penempelan stiker setiap sopir diminta setoran, dengan alasan ini setoran perjuangan. Wa…wa…wa… ini caranya dijaman kolonialisme

Memang cara-cara intimidasi hal biasa dirasakan oleh masyarakat Aceh tetapi dijaman setelah perjanjian damai sangat tidak cocok melakukan pemaksaan kehendak dan pungutan liar. Kita berharap masyarakat bisa merasakan alam kedamaian setelah berpuluh tahun derita konflik yang berkepanjangan. Apakah itu masyarakat Gayo, Alas, Tamiang, Aneuk Jamee, Kluet, Siemeulue, Singkil, maupun imgran luar Aceh yang telah menetap di Bumi Serambi Mekkah, mereka semua bagian dari bangsa Aceh. Perlu kita ketahui peradaban Aceh terbangun tidak luput dari bermacam ragamnya suku yang menduduki tanah para Al-Ambiya, para Syuhada.

Keesokan harinya kami beranjak ke kutacane setelah subuh biar bisa menikmati segarnya hawa pengunungan karena selama ini larut dengan polusi udara dikota Banda Aceh serta panasnya suhu yang bikin gerah. Kita gak tahu berapa pohon yang ditebang setiap harinya oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.

Ditengah perjalan tepatnya dikecamatan Ketambe pastinya mushalla Bahagia salah seorang dari tim kami punya hajatan buang air seketika saja mobil saya hentikan. Selama kawan-kawan ke kamar mandi saya tetap didalam mobil sambil jaga mobil dan rehat. Tiba-tiba di seberang jalan muncul seorang laki-laki berpostur besar hitam usia kira-kira 50 tahun dengan wajah sangar memanggil saya, wa ada masalah apa ini??? Apa karena kami menggunakan fasilitas mereka tanpa izin dulu, trus saya dengan bahasa isyarat minta izin pakai kamar kecil di mushalla mereka (agak malas keluar dari mobil karena kecapean nyetir dari Blang Kejeren sendirian). Namun Bapak tersebut tetap memanggil saya dan hendak nyebrang jalan menuju ke mobil saya. Okey lah biar saya turutin aja panggilannya dengan niat minta maaf kelancangan pemakaian fasilitas umum tanpa izin.

Saat ketemu dengannya langsung dia katakan suara lantang “kami masyarakat disini gak percaya sama partai lokal”, haa… ada apa ini? gak ada badai gak hujan tiba-tiba bisa begini, terus Bapak tersebut mengatakan kami percaya pada partai nasional ini sambil menunjukan sebuah stiker menempel di pintu rumahnya partai berlambang padi kuning diapit dua bulan sabit. Saya dalam hati mengatakan “Bapak tenang dulu saya gak tau apa telah terjadi disini”. Seketika saja kawan-kawan saya yang baru siapa dari kamar mandi menuju ke rumah Bapak ini koq nomong marah gak karuan. Setelah berbincang yang seru ternyata Pak T Baharuddi sebagai tokoh masyarakat di Ketambe dulunya pernah menjadi aleg salah satu partai dulunya tapi karena ada masalah internal di tahun ini dia tidak mau lagi dicalonkan. Trus dia sangat pesimis dengan partai lokal yang cenderung mencari keuntungan semata dari kemenangan PEMILU.

Ini salah satu ungkapan emosional dari masyarakat Aceh yang hanya ditawar dengan janji-janji murahan dan malah membuahkan kesengsaraan dari kemenangan kelompok tertentu. Ibarat melempar bumerang membawa bencana buat yang melempar. Kita berharap masyarakat bisa cerdas menggunakan akal sehat serta melawan setiap intimidasi pemaksaan hak. Semoga saja Aceh menjadi Nanggroe yang Sijatera….