Di Indonesia  keluarga jadi korban dari politik praktis setiap lima tahun sekali menjadi hal biasa. Keluarga jadi sasaran teror yang pertama untuk meraih sukses suara terbanyak dalam setiap pemilihan, apalagi sekarang ada pilkada langsung. Keluarga jadi sebuah dilema dalam istilah “jaringan keluarga politik atau politik jaringan keluarga”.

Pemilu 2004 banyak keluarga yang pisah ranjang gara-gara beda partai antara suami istri, trus anak juga ikut beda. Untung tidak ada partai kaum kakek-nenek yang ada partainya kalangan anak muda. Ini menngambarkan kedewasaan orang kita dalam berpolitik. Saya mengkhawatirkan Pemilu 2009 bukan saja terjadi perceraian, tapi putus hubungan saudara (famili) karena hampir setiap rumah mengusung calon anggota legeslatif (caleg) bahkan dalam ada keluarga semua jadi caleg yang berbeda partai. Mudah-mudahan saja piring-gelas tidak ikut andil dalam kampanye parpol dirumah keluarga politisi.

Bebarapa hari yang lalu ada teman saya melaporkan barus saja dia dikucilkan dari keluaga besar gara-gara beda partai, trus teman saya yang lain juga hampir terjadi pekelahian dengan Paman Istrinya gara-gara jadi caleg dari partai yang berbeda. Memang perebutan kursi di legeslatif diawali dengan ajang lempar kursi di meja tamu, biar terbiasa main kursi di gedung dewan yang terhormat nantinya.

Kalau kita baca buku sejarah waktu SD, SMP orang Indonesia dikenal paling santun, sopan, bertutur kata baik. Mudah-mudahan saja ini bumbu penyedap rasa dalam ajang perpolitikan di Indonesia tercinta ini.