Tampaknya intimidasi terhadap kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) belum juga berakhir. Pasca kejadian pencabutan bendera di Banda Aceh saat kedatangan Hasan Tiro, kini intimidasi dan teror berlanjut terhadap seorang kader putri PKS di Kutablang di Bireuen.

Kejadiannya berawal pada hari Jumat tanggal 24 Oktober 2008 ketika seorang kader PKS Erna (21 Tahun) sedang pulang dari kampusnya menuju rumahnya di desa Geulanggang Rayek Kec. Kutablang Bireun. Tiba-tiba ditengah perjalanan Erna di hadang oleh dua orang yang mengaku dirinya sebagai kader Partai Aceh. Saat penghadangan itu tidak ada satu orangpun yang melintasi jalan tersebut dan praktis hanya 3 orang yaitu kader PKS Erna dan 2 orang dari PA. Saat itu seperti diakui Erna dia di ancam oleh oknum PA tersebut untuk tidak memasang atribut partai PKS di rumahnya. Tapi larangan tersebut ditolak mentah-mentah oleh erna dan erna menambahkan bahwa kampanye adalah hak setiap orang, kalau kalian mau protes silahkan ke KIP jangan dengan saya, jawab Erna lebih keras dari bentakan oknum PA.

Kejadian ini tidak berhenti hingga satu hari tersebut. keesokan harinya sabtu tanggal 25 Oktober Erna yang baru pulang mengisi pengajian di Kampusnya kembali dihadang oleh oknum PA yang berbeda dengan kemarin (jumat, red). Kali ini ancaman terhadap Erna lebih berat. Oknum tersebut mengancam akan menggorok leher Erna dan keluarganya serta mengancam membakar rumahya bila masih terpasang bendera PKS. Tapi lagi-lagi erna membalas ancaman tersebut bahwa dia tidak takut dengan ancaman murahan, yang dia takut hanyalah Allah. Akhirnya si oknum PA tersebut menyerobot pin PKS yang ada di jelbab Erna dan menariknya sehingga jelbab si Erna sampai kusuk. Kejadian tersebut berlangsung saat azan magrib sedang berkumandang.

Atas kejadian tersebut ketua DPW PKS Aceh tgk. H. Ghufran Zainal Abidin, MA sangat menyesalkan tindakan oknum PA tersebut. Selain sudah mencemarkan perdamaian dalam pemilu, tindakan menyerobot jelbab merupakan tindakan pelecehan terhadap perempuan dan hak asasi manusia. Ghufran meminta kepada aparat keamanan untuk mengusut tuntas kejadian tersebut. Kalau dibiarkan maka kedepan Ghufran khawatir akan terjadi kegundahan dalam masyarakat, karena mereka tidak bisa hidup aman, damai tentram dan bebas menentukan pilihan sesuai dengan nuraninya.

Mudah-mudahan cukup PKS saja yang menjadi korban kekerasan oknum PA, PKS mengajak kepada seluruh komponen di Aceh untuk secara bersama mewujudkan pemilu yang damai, bebas dari intimidasi dan paksaan. Dan kalaupun ada yang mengintimidasi mari kita lawan dan jadikan musuh masyarakat.

Dikirim oleh Humas PKS Aceh

dr. Nasrul Wahdi